Cerita Sex Cinta Sejati – Part 2

Cerita Sex Cinta Sejati – Part 2by on.Cerita Sex Cinta Sejati – Part 2 Cinta Sejati – Part 2 Termenung… Hanya termenung di kamar kost yang bisa aku lakukan. Aku seakan tak bertenaga, hatiku hampa. Hanya flashback ingatan tentang Pipit yang melintas di kepalaku. Terkenang masa sekitar tujuh tahun yang lalu, awal birunya jalan hidup yang harus aku jalani. Pertemuanku dengan Pipit, cinta sejatiku… Cinta Sejati Bagian 2 Bertemu […]

multixnxx- Kyoka Mizusawa Maika Miu Watanabe Megu-11multixnxx- Kyoka Mizusawa Maika Miu Watanabe Megu-10  multixnxx- Maki Koizumi Maki Koizumi with big chest-0Cinta Sejati – Part 2

Termenung…
Hanya termenung di kamar kost yang bisa aku lakukan. Aku seakan tak bertenaga, hatiku hampa. Hanya flashback ingatan tentang Pipit yang melintas di kepalaku. Terkenang masa sekitar tujuh tahun yang lalu, awal birunya jalan hidup yang harus aku jalani.

Pertemuanku dengan Pipit, cinta sejatiku…

Cinta Sejati
Bagian 2
Bertemu Bidadari

Desri Savitri Tresnanursari.
Mamanya memanggil dia Desi, kakak dan adik-adiknya memanggilnya Echi, atau mbak Echi.
Tapi panggilan sayang dari papanya lah yang membuat gadis itu di panggil Pipit di semua aspek kehidupannya selain di rumah. Anak kedua dari lima bersaudara, hanya abangnya yang tertua dan adiknya yang paling bungsu yang laki-laki, sisanya perempuan semua.

Aku mengenalnya pada tahun 2006 saat masih SMU dulu, tepatnya pada saat hari keempat masa orientasi siswa baru yang berlangsung seminggu penuh. Pada hari keempat itu, seluruh siswa baru diwajibkan mengumpulkan tanda tangan dari seluruh senior yang menjadi panitia kegiatan orientasi tersebut. Aku saat itu baru naik kelas 3, salah satu senior yang sejak kelas 1 sampai dengan hari itu masih menjomblo, seumur hidup belum pernah punya teman gadis yang bisa aku bilang sebagai pacar.

Mohon maaf aku beri penjelasan sebelum dituduh sebagai cowok tidak laku. Aku adalah tipe cowok yang tak mudah jatuh cinta. Sungguh. Bukan dibesar-besarkan atau mencari pembenaran. Saat kelas 1, aku jatuh cinta pada seorang gadis teman sekelasku. Namanya Rita, gadis imut (dari tinggi badannya memang imut) dengan spek body yang proporsional, cantik berkacamata, lembut dan cerdas. Saat aku sadari aku menyukai Rita, aku mulai dengan mengenal sosoknya terlebih dahulu. Aku cari tahu dulu bagaimana sifatnya, apa yang dia senangi dan apa yang tidak dia sukai. Ini memakan waktu 3 bulan, my friend, sampai akhirnya aku menyatakan cintaku padanya pada saat pulang sekolah.

Rita membutuhkan waktu 24 jam sebelum dia menjawab permintaanku menjadikannya kekasihku. Rita tidak pernah mengatakan gak mau saat aku memintanya jadi pacarku. Dia bilang dia ingin konsentrasi pada pelajaran dulu, gak mau pacaran karena akan mengganggu pelajaran, apalagi aku sekelas dengan dia. Aku tau Rita memang senang membaca, nongkrongnya di perpustakaan saat istirahat. Rita memang kurang suka hangout sama teman-temannya, bahkan sekedar nongkrong di kantin saat istirahat, hanya sekedarnya saja. Aku tau apa yang dia sukai dan apa yang dia tidak sukai, tapi aku tak pernah menyangka jika itu yang dijadikannya alasan tak mau menerima ajakanku untuk pacaran. Sampai akhir kelas 1, aku terus berusaha membujuknya agar mau menjadi pacarku, menunjukkan seluruh perhatianku padanya. Tapi itu semua seakan gak ada pengaruhnya. Rita tetap Rita. Belajar dan belajar. Konsisten dia. Bahkan sampai kami kuliah, karena aku satu fakultas dengannya, aku gak pernah mendengar dia pacaran. Good girl, konsisten. Sebelum ujian kenaikan kelas, aku menenggelamkan bahtera cinta yang aku bangun untuk Rita. Cukup. Hampir setahun aku mengejar Rita dengan kesimpulan : Just wasting time.

Saat kelas 2, aku kembali jatuh cinta. Pada anak kelas 1 yang baru masuk. Boleh dong ngincer yang masih fresh. Aku jadi panitia orientasi karena keaktifanku di eksul Pramuka. Masa orientasi benar-benar aku pakai buat nyari pacar, hehe dan aku bertemu dengan seorang gadis bernama Dwimarini. Yup. Dwimarini, tanpa spasi dan hanya Dwimarini tanpa embel-embel lain, panggilannya Dwi. Anaknya tinggi, putih, bodynya yahud punya. Kebalikan dengan Rita, Dwi anaknya rame, senang hangout bahkan ngabur dari pelajaran, walau masih menyisakan kemayu khas Jogja yang lembut. Dan dia walau asik diajak hangout, jangan harap bisa sembarangan menyentuhnya. Kembali 3 bulan aku pakai buat mengenal siapa Dwimarini, sampai aku putuskan untuk nembak dia karena aku sudah yakin aku benar-benar suka ama dia. Kembali tak ada penolakan yang aku terima. Dwimarini bilang, Yaahh kakak telat minggu kemaren Dwi baru nerima kak Yos. Yos adalah sohibku di Pramuka, dan si binatang Yos ini bukannya gak tau kalo aku suka banget ama Dwi. Kejadian ini membuat aku meninju si Yos di parkiran motor, dan membuat aku bermusuhan dengan Yos dan Dwi, dan walau 4 bulan kemudian mereka putus, aku udah males buat ngedapatin Dwi. Harga diri, boss.

Begitulah.
Dan kembali ke awal lagi, masa orientasi saat aku kelas 3 dan bertemu dengan Pipit. Hari itu Kamis di pertengahan Juni 2006, adalah masa-masa dimana senior dengan niat yang tidak pernah tulus membantu dewan guru untuk memperkenalkan siswa baru pada lingkungan sekolah. Termasuk aku. Aku bertahan di Pramuka, bahkan ngotot masuk ke OSIS semata-mata untuk masa orientasi ini. Hanya yang jadi panitia yang punya akses pada siswa baru, termasuk memilih duluan mana siswi yang cantik yang akan di prospek buat jadi pacar.

Dan hari itu, Kamis itu, sekitar jam 2 siang Aku sedang duduk disebuah batu di bawah pohon dekat lapangan basket, menikmati minum es the di siang yang terik. Saat itu aku benar-benar sudah lelah, karena sejak pagi aku dan beberapa teman berangkat survey untuk lokasi api unggun disaat malam penutupan orientasi.

Segerombolan siswi baru aku lihat dari jauh bisik-bisik sambil melihat kearahku. Ah, pasti mereka ingin meminta tandatanganku yang memang jadi tugas mereka, males aku jadinya. Mereka akan dapat tandatanganku, tapi gak gratis. Mereka akan aku kerjai jika sampai berani mendatangiku. Tapi rupanya mereka berani, atau malah takut pada hukuman bagi siswa yang tidak mengumpulkan tandatangan seniornya yang jadi panitia, namun yang jelas mereka menghampiriku, agak takut takut karena aku yakin wajah bete yang aku pasang.

5 orang gadis, yah nilai 5 sampai 6,5 semua lah. Standar. Rada males aku melayani permintaan mereka agar menandatangani buku yang mereka bawa. Mereka satu persatu hanya aku suruh bernyanyi. Dan selama 10 menit aku terpaksa mendengarkan orang gak niat nyanyi. Aku cut, mereka akhirnya diam, gak satu pun yang bersuara. Aku kumpulkan buku mereka, dan mulai aku tanda tangani.

Pada saat buku keempat selesai aku tandatangani, sebuah buku terulur ke arahku
Minta tandatangannya ya, kak
Sebuah suara merdu membuatku mengangkat muka, menatap si manusia kurang ajar yang berani-beraninya menyodorkan buku tambahan tanpa melalui casting bernyanyi dulu

Degh.
Waktu seakan berhenti.
Aku memanfaatkan detik-demi-detik yang berlalu untuk menatap wajah si pemilik buku.
Seorang gadis, sambil menunduk meletakkan lututnya ke tanah di depanku yang sedang duduk disebongkah batu, berjongkok menyamakan tingginya denganku.

Sebelum sampai tanganku menyambut buku yang disodorkannya, aku menyadari bahwa diriku telah jatuh cinta.
Teramat dalam, seakan membuat jatuh cintaku yang sebelumnya terasa tak ada artinya.

Antara aku, dan gadis itu, ada sebuah jurang yang teramat dalam.
Dan aku terjatuh ke dalamnya, dengan penuh bahagia.

Aku yang sedang jatuh cinta

Pada gadis yang membawa buku untuk minta tandatanganku. Tanganku menyambut bukunya, sambil menatap dalam ke arah matanya. Duh, dia berani membalas tatapanku, seniornya.

Dan kelak di kemudian hari, kelima gadis lain yang sebelumnya sudah aku kerjai untuk bernyanyi bilang, moment itu adalah moment yang paling orisinal yang pernah mereka lihat.
Hampir tiga menit aku memegang buku itu tanpa mengambil darinya. Hampir tiga menit aku menatap dalam ke matanya. Dua tangan, satu buku, dan dua pasang mata yang saling menatap, adalah moment yang sangat orisinal.

Orisinal noraknya.

jatuh cinta ya gak harus bengong gitu juga kali kak.. tawa mereka beberapa bulan kemudian. Kelima cewek centil itu akhirnya menjadi temanku juga karena mereka adalah sahabat dari gadis itu. Aku dan sang gadis hanya tersipu malu, dan kami kembali saling menatap.

Penuh rasa cinta.

Author: 

Related Posts

Comments are closed.