Cerita Sex Enam – Part 29

Cerita Sex Enam – Part 29by on.Cerita Sex Enam – Part 29Enam – Part 29 Life Memang Go On. Bagian 2 Udah deh, jangan cemberut gitu, kan gak tau kalo kita bekal ketemu Rian. Iya, tapi kan gak usah nyuruh Ima untuk nyamperin juga kan, ahhh. Hehehe, udah, gak usah marah dulu, nikmatin aja dulu itu yang di bawah. Ima terdiam, kedua tangannya masih erat menggengam […]

Enam – Part 29

Life Memang Go On.
Bagian 2

Udah deh, jangan cemberut gitu, kan gak tau kalo kita bekal ketemu Rian.
Iya, tapi kan gak usah nyuruh Ima untuk nyamperin juga kan, ahhh.
Hehehe, udah, gak usah marah dulu, nikmatin aja dulu itu yang di bawah.

Ima terdiam, kedua tangannya masih erat menggengam sisi jok dan seat belt. Vibrator di dalam vaginanya kini sudah mulai melemah, tapi tetap saja, setiap dia bergerak, vibrator itu terasa menggelitik dinding vaginanya.

Dah, nyampe, sabar Ma, bentar lagi, he he he.

Bima memasukan mobilnya ke halaman rumah, memarkirkannya. Mereka berdua turun Ima dengan langkah perlahan memaksakan kakinya melangkah memasuki rumah, untung dia memakai celana jeans, pikirnya, jika tidak, cairan kewanitaannya pasti sudah menetes kemana-mana. Sialan Bima, pikir Ima lagi, kenapa jadinya kaya gini? Ima sudah tidak berdaya, videonya dulu yang di rekam Bima ketika dia berhubungan badan dengan Gio dijadikan senjata oleh Bima untuk melakukan apa saja yang diinginkan, namun Ima masih bersyukur, Bima menepati janjinya untuk tidak melakukan pengambilan gambar dalam bentuk apapun ketika mereka berdua sedang ML atau ketika Ima sedang ditelanjangi.

Dan Bima pun menjaga perkataannya untuk tidak bermain kasar atau yang aneh-aneh. Mungkin karena Ima sadar, bahwa sampai saat ini, Bima masih mencintainya. Dua tahun sudah Ima menjadi budak seks nya Bima setelah Gio harus meneruskan studi ke luar negeri. Pada awalnya memang Ima marah dan benci, namun ternyata perasaan kecil Ima yang juga menyatakan rasa sayangnya pada Bima lah yang membuat sampai saat ini Ima masih bisa tahan. Ditambah lagi Gio yang kini ada di luar negeri dan kebutuhan Ima akan hal yang dia mulai dengan Gio, membuat Ima sebetulnya, jadi lebih dekat dengan Bima, walaupun sebetulnya dia membenci hal ini.

Bima dalam hal lain memang mengisi kekosongan Ima. Walaupun tidak ada satupun niatan Ima menghianati Gio. Namun sebagi seorang manusia biasa, Ima membutuhkan ini, seseorang yang ada dikala dia butuh.
==========

Tadi siapa Kak?
Huh? Ima. Temen SMA.
Owh, cantik, yakin cuman temen, bukan mantan atawa pacar?
Bukan. Kenapa emang?
Gak, cuman kayaknya cocok aja ama Kak Rian. Yang cowok ganteng, yang cewek cantik.
Hahahaha, emang saya ganteng Ning?
Ganteng. Temen-temen Nuning juga pada suka ama Kak Rian.
Kalo Nuning suka gak ama saya?
Hemmm, gimana ya? Hahahaha.
Ni anak, ditanya malah ketawa.
Kalo Nuning cantik ga Kak?
Cantik, kalo menurut saya sih, selevel lah ama Ima, soalnya level kecantikan Ima waktu SMA dulu ama Nuning, sama, hmm, malah banyak lebihnya di Nuning. Nuning memang cantik, jika saja dihatinya tidak dipenuhi oleh Atika dan, walaupun benci, Revi. Pasti Rian sudah nembak Nuning. Apalagi sekarang, dengan hanya menggunakan celana jeans belel, kaos abu, jaket dengan tudung berwarna abu pula yang agak kebesaran dan kerudung hitamnya yang dipakai tanpa banyak gaya seperti para hijaber cantik, Nuning terlihat menawan. Mata para lelaki banyak sekali yang tadi tertuju padanya, bahkan 2 pasang perempuan yang jelas-jelas melihat dan mengagumi Nuning tadi.

Level, emang Ma Icih pake level-levelan.
Hahaha, ya biar jelas gitu Ning. Eh, ngomong soal level, ke Mafia yu ah, laper.
Asiiik, Kak Rian yang traktir ya?
Jiah, ni anak, mangpaatin sayah nih ceritanyah?
Hehehe, ya ya, da ganteng.
Emang saya ganteng, kan tadi Nuning yang bilang.
Hehehe, emang sih, Kak Rian ganteng.
Nuning juga cantik. Eh, kenapa cewe secantik kamu tapi masih single?
He, nungguin ada yang nembak Kak.
Halah, pasti banyak kan yang nembak?
Ya mayan banyak sih.

Kenapa gak diterima? Gak boleh ya ama si mamah? Tar Kak Rian yang bilang deh ama si mamah, sekalian entar mau balikin tempat makan yang kemaren. Rumah Nuning memang dekat dengan kostan Rian, hanya terpisah dua rumah.

Nunggu Kak Rian yang nembak, pikir Nuning gemas. Menyadari keanehan Rian, melihat dan menganggap dia cantik, tapi kenapa gak juga nembak.
Kak Rian juga. Nunggu apa? Kuliah di Maranatha, kan banyak tuh perempuan yang cantik dan seksi, putih-putih malah.
Iya, tapi sipit-sipit. Dan otaknya, jauuuhh di atas otak ini nih, sambil menunjuk kepalanya sendiri, era. Hahaha.
Kak Rian pinter juga kan? Buktinya kata mamah waktu itu keterima jalur Undangan di ITB. Kenapa gak diambil?
Gak, mending sekolah di swasta. Sama aja, malah saya mah lebih semangat di Marnat. Lagian lebih deket tempat kost, dan lebih deket ama Nuning juga, hehe.
Idih, gombal. Tapi kan ITB keren, nuning juga mau masuk ke sana, FSRD, keren kan?
Iya, keren. Pikir Rian, tapi di sana ada si Bima brengsek. iya, keren, cocok lagi ama kamu Ning, FSRD. Pas banget.
==========

Yak, lima puluh ribu. Ucap Rian sambil menyodorkan tangan.
Idiihhh, udah turun level jadi tukang ojek nih ceritanya?
Hahaha, yasud, saya balik. Gih sana, masuk. Eh, Ning?
Ya Kak?
Hmmm, gapapa. Hehe, yu ah, met sore Nuning cantik. Salam buat temen-temen besok.
Idih, ga jelas. Iyah, tar disalamin ama Sarah.
Oh, Sarah yang putih cantik dan rambut panjang itu? Mau dong, salamin ya.
Itu Salma, Sarah mah yang endut kaya Obelix. Tar Nuning salamin.
Yah, kirain yang itu, putih dan berbodi sekel.
Ih, Kak Rian mesum, udah ah, gih sana pulang. Ujar Nuning sambil cemberut, lalu pergi meninggalkan Rian masuk ke dalam.
Hehehe, cemberut tambah cantik. Dan Rianpun kembali menjalankan motornya.
==========

Ima merapihkan rambutnya di depan cermin. Melihat wajahnya, Rian tadi mengatkan bahwa dia semakin cantik. Sebuah senyum tersungging di bibirnya yang tipis. Rian, sudah lama sekali rasanya wajah yang ganteng dan terkesan cuek itu tak terlihat, sejak kejadian itu. Semua gara-gara Bima, ya, Bima. Bahkan keadaan dia seperti ini pun, telanjang, semua gara-gara Bima.

Sialan, kenapa semua harus jadi berantakan gini, kepalanya menoleh ke arah Bima yang tertidur pulas di atas ranjang, semua gara-gara kamu Bim. Persahabatan yang mereka kira akan bertahan hingga mereka tua nanti punah sudah.
Ima bangkit, selangkangannya masih terasa nyeri, menggunakan vibrator dan digarap habis-habisan tadi oleh Rian sudah pasti membuat vaginanya terasa sakit. Bengkak dan merah. Ima berjalan mendekati ranjang, melihat wajah Bima yang sedang tertidur. Tampan. Baik dan damai sekali kamu kalo lagi tidur Bim, pikirnya.
Kembali badannya berputar, memunguti pakaian dalam yang tadi dilucuti Bima. Ima menggunakan BH nya, lalu CD nya dia kenakan. Namun ketika hendak mengambil celana, Bima memeluknya dari belakang.

Mau kemana cantik?
Balik.
Hmmm. Bima kemudian mencium tengkuk putih Ima.
Bim, udah, cape, gak puas tadi? Ahhhh. Ima hanya mendesah ketika kembali kedua tangan Bima meremas bongkahan payudaranya yang indah itu.
Belum sayang, masih ingin mainin ini. Sahut Bima, masih terus memainkan payudaranya. Dan masih pengen ngentotin kamu Ma.
Aakkhhhh, aahh, Bimaa, udaah, ga kuat, lemessss. Desah Ima ketika kini jari Bima mulai mengobok-ngobok vaginanya.
Sekali aja ya Ma? Cepet ko. Ya?

Ima mengangguk kecil, diikuti oleh Bima yang menurunkan CD Ima ke lantai. Kemudian Bima sedikit menyeret tubuh Ima ke lemari, menempelkannya dan sedikit menunggingkan Ima. Bima mengarahkan penisnya yang sudah tegang penuh ke selangkangan Ima, berusaha memasukannya, dogie style sambil berdiri.
Ahh, Bim, sakit, belum basah. Aaahhhhh, Bimaaa, sakit beneran.

Mendengar itu kemudian Bima turun, berjongkok. Kepalanya mendekati selangkangan Ima, dijilatnya vagina Ima.
Sssshhhhhhh, Bimmmmm. Ahhh.
Bima terus menjilati belahan vagina Ima, dan jarinya pun mulai memainkan klitoris Ima, beberapa saat kemudian jarinya mulai memasuki vagina Ima yang mulai basah, mengocoknya pelan, lalu keras, kemudian ditekukkan jarinya menggelitik dinding vagina Ima.

Udahhh Bim, aah, masukin.
Mendengarnya Bima langsung berdiri, kembali membuat Ima mengungging, diarahkan penisnya ke vagina Ima, di paskan oleh tangannya, dan blesss. Masuk semua, Ima berteriak tertahan, dan Bima kemudian menggenjot Ima dengan kecepatan tinggi sambil sesekali kedua tangannya meremas keras dada Ima sampai setelah beberapa menit akhirnya Bima menarik penisnya keluar, mengocoknya dan meminta Ima untuk bersimpuh didepannya.
Aahhh, Ma, inii, aahhhhh.
Sperma Bima muncrat di wajah cantik Ima. Lumayan banyak. Dan Bima kemudian mengarahkan penisnya ke mulut Ima untuk kemudian dibersihkan oleh Ima.

==========
Saya pulang Bim.
Ya, ma kasih ya, dan maaf untuk yang tadi.
Jangan sekali-kali lagi.
Hehe, iya cantik. Eh, ini kacamata jangan lupa. Met istirahat ya.
Kamu juga, jangan ngebut tar pulang.
Ima kemudian turun dari mobil, dan berdiri di depan rumah sampai mobil Bima tidak terlihat lagi. Ima melangkah masuk ke dalam rumah dan langsung masuk ke kamar. Langsung merebahkan tubuhnya. Cape.
Diambilnya HP dan dicarinya nomor yang sudah lama tidak dia hubungi. Revi.
==========

HP nya berbunyi, sedikit malas Revi mengambilnya dari atas meja. WA dari Ima.
Hai. Apa kabar?

Author: 

Related Posts

Comments are closed.