Cerita Sex Jalan Anak Adam – Part 17

Cerita Sex Jalan Anak Adam – Part 17by on.Cerita Sex Jalan Anak Adam – Part 17Jalan Anak Adam – Part 17 Part 15 Aku yang ingin tau apa yang membuatnya begitu kaget segera mencoba mengikuti arah pandang matanya agar dapat kutemukan apa penyebab kekagetannya. Dan sialnya pandangan matanya justru mengarah kepada celana jeansku. Lebih tepatnya sebuah gundukan besar di dalam celana jeans yang terjadi tanpa aku mengetahui mengapa. “Ntar malam […]

Jalan Anak Adam – Part 17

Part 15

Aku yang ingin tau apa yang membuatnya begitu kaget segera mencoba mengikuti arah pandang matanya agar dapat kutemukan apa penyebab kekagetannya. Dan sialnya pandangan matanya justru mengarah kepada celana jeansku. Lebih tepatnya sebuah gundukan besar di dalam celana jeans yang terjadi tanpa aku mengetahui mengapa.

“Ntar malam jam 10 ke sini lagi ya sayang.”ucapnya sembari mengelus gundukan di celana jeans yang kukenakan.

“AWWWWW!!!!”ucapku tiba – tiba karena merasakan sakit pada daerah kon**lku karena tiba – tiba saja ia meremas batang kon**lku.

Bersambung

Part 16

Rasa sakit menjalari seluruh batang kon**lku. Padahal aku yakin, remasan yang ia lakukan tidaklah kencang, mungkin jika bagian tubuhku yang lain yang diremas aku tidak merasakan sakit.

“Tolong lepasin Kak……..”pintaku pada wanita cantik di depanku.

“Tapi kamu harus janji ntar malam jam 10 ke sini lagi ya saying. Kalo gak, gak bakalan aku lepasin ni kont**l.”ucapnya dengan pelan atau lebih tepatnya berbisik.

“Iya – iya ntar malam aku ke sini.”ucapku memelas, karena kurasakan remasannya semakin bertambah kuat.

“Oh ya, nama kamu siapa sih sayang?”

“Awan kak.”ucapku singkat, karena ia tak kunjung juga melepaskan batang kont**lku.

“Awan ya? Kenalin aku Bintang.”ucapnya sambil mengecup pipiku.

“Iya kak Bintang. Kak Bintang sonoan dulu gih, gak enak ma Cak Diqin tuh mukanya uda kaya baju kusut liatin tingkah kakak.”

Akhirnya senjata semata wayangku dapat sedikit bernafas lega begitu wanita yang baru memperkenalkan dirinya sebagai Bintang kini duduk agak menjauh dariku. Entah apa yang menyebabkan dirinya seperti itu, aku tak tau. Tapi satu yang pasti. Aku tak bisa berkutik di hadapannya untuk saat ini. Senjata semata wayangku masih sangat sakit akibat remasan tak beraturan yang dilakukan oleh Bintang tadi. Kini aku hanya bisa merebahkan tubuhku di bale. Untuk menggerakkan tubuhku sangatlah tidak mungkin.

Kulihat Bintang tengah bercakap – cakap dengan Cak Diqin. Entah apa yang dibicarakan oleh mereka. Namun dapat kulihat sesekali ia tampak menoleh ke arahku. Tak lama kemudian tampaknya ia akan pergi, karena dapat kulihat ia kini berdiri dan menenteng tas Urban Stachel Louis Vuitton. Itu dapat kuketahui dari corak unik yang terdapat ditas itu dan mungkin jarang ada orang yang mau memakainya karena coraknya.

“Aku cabut duluan ya Awan sayang.”ucap Bintang ketika ia telah sampai di depan pintu.

“Iya kak, hati – hati ya di jalan. Ati – ati ya. Jangan asal comot aja.”

“Mau dicomot lagi?”ucapnya dengan tersenyum sambil memperlihatkan tangannya yang tadi digunakan untuk meremas senjata semata wayangku.

Ya ampun. Ni beneran cewek atau bukan sih. Kalau cewek kok kayanya gak banget. Mungkin ia bisa saja penjelmaan dari jin iffrid.

“Gak kak. Makasih. Buat ntar malem aja.”ucapku setengah berharap agar ia cepat pergi.

“Ya udah aku duluan ya sayang.”ucapnya sambil mendekatiku.”Jangan lupa minum jamu kuat.”ucapnya berbisik di telinga kiriku sambil tangannya kembali bergerilya di senjata semata wayangku namun kali ini ia lakukan dengan lembut.

Ada apa ini. Kenapa dengan cewek satu ini. Ia dapat merubah sikapnya bak berganti pakaian saja.

“Iya sayang.”jawabku singkat berharap agar ia cepat pergi dari tempat ini.

Sepertinya Tuhan mengabulkan doaku. Kulihat ia kini telah beranjak pergi dan tengah berjalan ke pohon mangga di samping rumah Cak Diqin. Sukurlah, sekarang aku dapat bernafas lega. Namun belum sempat aku menyelesaikan tarikan nafas ke 5 ku, kudengar ia memanggilku.
“Awan sayang, sini donk.”pintanya manja.

“Ampun dah. Ada apa lagi sih dengan wanita bernama Bintang ini.”gumamku dalam hati.

Sementara itu dapat kulihat Herman dan Cak Diqin tertawa melihat nasibku. Entah apa yang ada dipikiran mereka. Bergegas ku hampiri Bintang yang tengah duduk di atas motor Yamaha Jupiter warna putih merah.

“Ada apa sayang?”ucapku sedikit bermanis kepadanya.

“Nah gitu dong. Panggil pake sayangnya tulus kan tadi? Motorku kenapa yak kok gak mau dipake buat jalan.”

“Kalo jalan mah pake kaki kak gak pake motor.”ucapku ketus.

“Ih, uda bisa ngegodain ya sekarang.”

“Ya udah Kak Bintang turun dulu. Biar aku coba benerin.”

“Gak mau ah. Udah pewe nih.”

Kucoba untuk terus bersabar menghadapi makhluk cantik dan sexy yang dikepalanya uda ada 2 tanduk ini. Kucoba untuk mencari tahu bagian mana yang salah di motor yang tengah diduduki oleh Bintang. Namun tak dapat kutemui. Ketika ku berdiri segera dapat kulihat apa yang salah. Posisi kunci motor menunjukan bahwa motor dalam keadaan mati. Segera saja kukatakan bahwa selama posisi kunci motor berada di keadaan mati maka tak dapat digunakan. Kubenarkan posisi kunci motornya dan kunyalakan mesinnya dan mengatakan bahwa sekarang motor telah siap untuk dikendarai. Kulangkahkan kakiku untuk kembali ke bale. Disana kulihat Herman tengah menikmati ciu. Entah kapan ia memesan ciu. Namun langkahku terhenti karena kurasakan ada yang memegangi atau lebih tepatnya menarik kerah kaosku.

“Mau kemana? Anterin cewek kamu yang cantik dan sexy ini dulu donk sayang.”

Ya ampun. Untung dia cantik dan sexy, kalo gak mungkin sudah beribu cacian kukeluarkan untuk menghadapi sikap manjanya.

“Anterin kemana kak?”
“Kok kak lagi sih!!!!”

Benar – benar jelmaan jin iffrid cewek satu ini.

“Anterin kemana sayang?”

“Nah gitu donk. Kalau gitu kan enak didengernya. Anterin sampai jalan raya aja.”

“Iya dah. Kakak munduran dikit donk.”

“Siap sayang.”

Setelah ia duduk di bagian jok belakang aku pun meletakkan pantatku di jok motornya. Tiba – tiba ia memelukku tanpa permisi. Ketika kuputar motornya dapat kulihat ia tengah mengangkat botol ciu dan memperlihatkan tangannya dimana ibu jari diselipkan diantara jari telunjuk dan jari tengah. “Cah edan,”batinku dalam hati. Tanpa mengucap sepatah katapun kujalankan motor guna mengantar makhluk setengah bidadari dan setengah jelmaan iffrid di belakangku.

“Pegangan kak. Jalannya gak rata soalnya.”

“Pegangan apa lagi sayang? Ini juga udah pegangan. Oh ya, pegangan yang itu ya, hihihihi.”ucapnya sambil merubah kedudukan tangannya sehingga kini menjadi tangan kanannya diletakkan diatas senjata semata wayang sambil tangan kiri memeluk pinggangku.

“Hahahahahahahahahaha………..”

Walaupun tak ada latihan koor namun tawa Cak Diqin dan Herman keluar secara bersamaan ketika melihat aku dibuat mati kutu oleh Bintang. Panas kupingku mendengar ejek tawa mereka. Segera kukendarai motor Yamaha Jupiter milik Bintang meninggalkan rumah Cak Diqin. Aku berdoa dalam hati semoga cepat sampai di jalan raya agar cepat bebas dari siksaan Bintang.
Namun bukan namanya Bintang kalau siksaan yang kuterima cukup sebatas itu saja. Setelah tak terlihat dari rumah Cak Diqin, tangan kanan yang diletakkan diatas senjata semata wayangku kini mulai menunjukkan tugasnya. Dirabanya senjata semata wayangku dari luar celana sambil menggerakkannya naik turun. Payudara besar dan bulat yang menempel ketat dipunggungku kini kurasakan menunjukkan kekenyalannya karena jalan yang kami lalui ini adalah pematang sawah. Dan tak cukup sampai disitu, bibir yang menggoda setiap laki – laki itu kini tengah mencium tengkukku.

Tak dapat kupungkiri kini aku dapat sedikit menikmatinya, namun posisi kami yang tengah mengendarai motor menyadarkanku bahwa ini bukan saat yang tepat untuk menikmati semua ini. Secara perlahan namun pasti senjata semata wayangku kini menunjukkan keperkasaannya dan menunjukkan ukuran aslinya.

Entah sekarang apalagi yang ada dipikiran Bintang, tiba – tiba gerakan tangannya kini berubah. Dari semula yang berupa rabaan kini berganti mengocok senjata semata wayangku. “Ah sial. Apa sih maunya ini cewek.”umpatku dalam hati. Untung saja suara kendaraan kini mulai terdengar. Kupercepat laju motor dengan harapan agar cepat sampai dan siksaan ini cepat berakhir. Dan kini lagi – lagi keberuntungan berpihak kepadaku. Tangan kanan bintang yang semula mengocok senjata semata wayangku dari luar celana kini menyertai tangan kirinya memeluk pinggulku.
Akhirnya kamipun tiba di jalan raya. Akupun turun dari motornya.

“Makasih ya sayang.”ucapnya sambil mencium bibirku dan tangan kanan masuk melalui sela celana yang kukenakan. Sepertinya ada sesuatu yang ia sisipkan di dalam celana dalamku.

“Iya sayang.”ucapku begitu mulutnya terlepas dari bibirku.

“Ya udah, cewekmu yang cantik dan sexy ini pulang dulu ya.”

“Hati – hati di jalan ya.”ucapku sambil melambaikan tangan.

Kulangkahkan kakiku kembali menapaki pematang sawah di siang hari ini. Penasaran dengan apa yang ada diselipkan di dalam celana dalamku, kumasukkan tanganku ke dalam celana dalam, kuambil apa yang tadi telah diselipkannya. Astaga, ternyata ia memasukkan satu bungkus kondom merek dureks ukuran L di dalam uang 200rb rupiah.

———————————————————————————————————————————

“Piye lek rasane? Mantep to kocokane Bintang (Gimana om rasanya? Mantap kan kocokannya si Bintang)?”tanya Herman tanpa tedeng aling – aling.

“Mantep matamu no Man!!!! Kocokan opo!!! Kon**lku rasane pe copot ki lho!!! Saiki rak no bongkar pasang kon**l su!!!! (Mantap matamu itu Man!!! Kocokan apa!! Kon**lku rasanya mau copot ni!!!! Sekarang tu dah gak da bongkar pasang kon**l njing!!!)”ucapku pada Herman dengan sewot.

Bersambung

Author: 

Related Posts

Comments are closed.