Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 9

Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 9by on.Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 9Pendekar Naga Mas – Part 9 Sejak melakukan perjalanan jauh selama beberapa hari, Cau-ji belum pernah makan enak, sekarang setelah berhadapan dengan aneka hidangan lezat, ditambah lagi ia sangat riang, tak heran semua makanan yang tersedia disikatnya hingga ludes. Ketika Cau-ji melihat di hadapan seorang adiknya masih tertinggal sepotong paha ayam, dia segera menggapai tangan […]

bQNS6WwijN btnmx1FdL3 cjKQNeuLRKPendekar Naga Mas – Part 9

Sejak melakukan perjalanan jauh selama beberapa hari, Cau-ji belum pernah makan enak, sekarang setelah berhadapan dengan aneka hidangan lezat, ditambah lagi ia sangat riang, tak heran semua makanan yang tersedia disikatnya hingga ludes.

Ketika Cau-ji melihat di hadapan seorang adiknya masih tertinggal sepotong paha ayam, dia segera menggapai tangan kanannya dan … “Weess!”, tahu-tahu paha ayam itu sudah terhisap dan terbang kedalam genggamannya.

Tentu saja kawanan bocah itu belum pernah menyaksikan kehebatan ilmu Likhong-sip-oh (menghisap benda dari udara), kontan semua orang terperana dibuatnya.

Melihat Cau-ji sengaja memamerkan ilmunya, Bwe Si-jin segera menggerakkan telapak tangan kanannya ke atas, separoh ayam panggang yang berada di hadapannya dicomotnya, kemudian hardiknya, “Terima potongan ayam ini!”

Ketika pergelangan tangan kanannya diputar sambil berayun, piring berisi ayam itu kontan berputar di angkasa lalu terbang melayang ke arah Cau-ji.

Separoh potong ayam panggang itu seakan tumbuh sayap, dengan satu gerakan cepat langsung meluncur ke tangan bocah itu.

Sementara piring tadi dengan membawa desingan angin tajam langsung meluncur keluar ruangan.

Melihat itu para bocah segera menjerit kaget, “Aduuuh, piring itu bisa pecah!”
Cau-ji sama sekali tidak menggubris, dia masih asyik menggigit ayam panggang itu.
Mendadak terdengar bocah-bocah itu berteriak lagi, “Haah, piring itu terbang kembali!”

Benar saja, setelah berputar satu lingkaran kecil di luar ruangan, bukan saja piring itu terbang kembali ke dalam ruangan bahkan dengan kecepatan yang lebih tinggi meluncur ke arah Bwe Si-jin.

Dengan wajah serius Bwe Si-jin menghimpun tenaga dalamnya ke tangan kanan, secepat kilat ia mencengkeram ke muka dan menerima piring itu.

Tempik-sorak disertai tepuk tangan meriah kembali bergema gegap gempita.

Lamat-lamat Bwe Si-jin merasa ujung jarinya kesemutan dan sakit, tak tahan ia menghela napas panjang.

Sementara itu si Raja hewan telah mengambil sebuah guci arak seberat lima kati, bentaknya, “Cau-ji, biar Yaya mentraktirmu minum arak!”

Selesai berkata telapak tangan kanannya menahan dasar gunci, lalu didorongnya ke depan.

Selapis panah arak segera menyembur ke udara dan menerjang ke hadapan Cau-ji.
Dengan tenang Cau-ji menolak telapak tangan kanannya ke arah panah arak itu, tampiknya, “Yaya, maaf, ayah melarang Cau-ji minum arak!”

Sambil bicara sekali lagi telapak tangan kanannya menekan, semburan arak itupun meluncur balik ke dalam guci.

Selagi mengerahkan tenaga ternyata masih mampu bicara, melihat kemampuan tenaga dalam yang begitu hebat, sampai Ong Sam-kongcu sendiri pun terkagum-kagum dibuatnya.

“Cau-ji,” serunya kemudian, “hari ini merupakan hari bersejarah bagimu, minumlah!”

Sekali lagi panah arak menyembur ke depan.
Kali ini Cau-ji menarik napas sambil menghisap, panah arak pun bagaikan ikan paus yang menelan air samudra langsung meluncur masuk ke dalam mulutnya.

Waktu itu Raja Hewan masih menekan dasar guci dengan telapak tangannya, tiba-tiba panah arak lebih melebar satu kali lipat dan menyembur ke arah Cau-ji semakin kencang.

Melihat datangnya semburan ini, Cau-ji segera teringat tindakan pamannya dulu, dimana dengan menyemburkan darah dari kelelawar menyerang dua bagian tubuhnya sekaligus.

Maka dengan gerakan cepat telapak tangan kirinya mengambil sebuah mangkuk kosong, lalu dengan teknik menghisap dia hirup separoh bagian semburan arak itu, sementara jari tangan kanannya ditusukkan ke tengah mangkuk dan menghisapnya ke dalam mulut.

Menyaksikan demonstrasi ilmu silat tingkat tinggi semacam ini, tak kuasa lagi Ong Sam-kongcu beserta para wanita lainnya bangkit berdiri untuk menyaksikan dengan lebih teliti.

Selang beberapa saat kemudian tiba-tiba panah arak itu terputus di tengah jalan.

Rupanya seluruh isi guci arak itu telah terhisap habis.

Tak kuasa lagi semua orang menghela napas panjang, tempik-sorak dan tepuk tangan pun kembali berkumandang gegap gempita.

Dengan keheranan Ong Bu-jiang segera bertanya, “Engkoh Cau, kemana larinya semua arak itu?”

“Tentu saja masuk kemari!” sahut Cau-ji sambil menepuk perut sendiri.

“Tidak mungkin, kenapa perutmu tidak membesar seperti guci arak itu?”
Cau-ji tertawa tergelak.

“Hahaha, adik Jiang, kau paling suka minum kuah, kenapa perutmu pun tidak membuncit seperti kuali?”

Habis berkata kembali ia tertawa tergelak.

“Engkoh Cau, kau bicara ngawur!” merah jengah wajah Jiang-ji.

“Ooh, sejak kapan kau belajar mengucapkan ‘bicara ngawur”? Engkoh Cau tak pernah membohongi kalian, bagaimana kalau kutumpahkan keluar semua isi perutku?”

“Tidak usah, tidak usah, bau!” seru para bocah sambil menutup hidung sendiri.

Rupanya suatu hari Lo-ong tumpah-tumpah setelah mabuk berat, bau muntahan yang menyengat sempat membuat para bocah itu pusing tujuh keliling.

“Baik, baiklah,” kata Cau-ji kemudian, “kalau memang kalian takut bau, biar kuteteskan keluar saja, adik Jiang, cepat ambil guci arak tadi.”

Baru saja A-jiang mengambil guci arak itu, segulung semburan arak telah meluncur keluar dari ujung jari tangan kiri Cau-ji.

Bau harum semerbak pun memancar ke seluruh ruangan, kembali teriakan memuji bergema di angkasa.

Cau-ji tersenyum, ketika lima jari tangannya dipentangkan, kembali terlihat ada lima semburan arak memancar masuk ke dalam guci itu.

Bwe Si-jin tidak menyangka kalau ilmu sakti Kui-goan-sin-kang milik Cau-ji sudah terlatih hingga mencapai tingkatan Thian-jin-hap-it (langit manusia bersatu padu), dalam suasana penuh kekaguman, mereka pun mulai membicarakan rencana bagaimana harus menghadapi perkumpulan Jit-sengkau.

Sesaat kemudian Cau-ji telah menjilati kelima ujung jarinya sambil berseru,
“Ehmmm, harumnya!”

Raja hewan mengambil guci arak itu dan menimang-nimang sebentar, tiba tiba serunya sambil tertawa, “He, Cau-ji, kau sudah korupsi satu kati arak!”

Merah padam wajah Cau-ji, untuk sesaat dia tak mampu berkata-kata.

Bwe Si-jin kontan tertawa terbahak-bahak, katanya, “Hahaha, Cau-ji, coba kau ceritakan pengalamanmu sejak perpisahan kita di dekat air terjun tempo hari!”

Mendengar itu Cau-ji segera teringat kembali akan sumpah dirinya pada Su Gi-gi. Mendadak paras mukanya berubah hebat.
Dengan wajah serius Bwe Si-jin segera berkata, “Cau-ji, kami tahu kau pasti telah bertemu dengan suatu peristiwa yang menyulitkan, itulah sebabnya kami ingin sekali membantumu menyelesaikan kesulitan itu, coba ceritakan pengalamanmu!”

Setelah termenung dan berpikir sejenak akhirnya Cau-ji pun menceritakan kisahnya bagaimana ia bertarung melawan naga sakti, bagaimana ia berhasil mendapatkan bola merah, kabur ke dalam gua, memukul hancur beberapa orang musuh dan melarikan diri dari tempat itu.

Ketika selesai mendengar penuturan itu, si Raja hewan yang pertama-tama bersorak gembira, serunya, “Terima kasih langit, terima kasih bumi, akhirnya naga sakti berusia seribu tahun itu mati juga, tampaknya danau itu sekarang telah berubah menjadi bukit karang!”

Sebaliknya Bwe Si-jin berkata dengan suara dalam setelah termenung sesaat, “Cau-ji, gadis yang mayatnya kau hancurkan itu bisa jadi adalah putri kesayangan Su Kiau-kiau, Kaucu perkumpulan Jit-seng-kau, itulah sebabnya semua orang memanggilnya sebagai tuan putri!”

“Cau-ji, tampaknya gadis itu tahu kalau bola merah itu merupakan mestika yang sangat langka, Lwe-wan dari naga sakti berusia seribu tahun, dia berusaha untuk menghabiskan sendiri benda itu, jelas tujuannya ingin menjadi jago nomor wahid di kolong langit, siapa tahu dia pun berencana hendak membunuhmu!”

“Mana mungkin? Aku toh pernah menyelamatkan jiwanya!”

“Cau-ji, pikiranmu kelewat sederhana, hati manusia siapa tahu, kelicikan dan kebusukan hati dimiliki setiap orang, apalagi Su Kiau-kiau sudah lama berencana melestarikan kembali perkumpulan Jit-seng-kau, putrinya pasti berusaha mendukung rencana ibunya bukan?”

Dengan mulut membungkam Cau-ji manggut-manggut.

“Aaaai, benda mestika hanya diperoleh mereka yang berjodoh, siapa suruh budak itu kelewat tamak, coba kalau dia hanya makan sedikit saja, belum tentu nasibnya akan berakhir secara tragis.”

“Cau-ji, untung kau telah berhasil melatih ilmu Kui-goan-sin-kang, kalau tidak, mungkin waktu itupun kau bakal tewas secara mengenaskan, malah menurut analisa, bisa jadi kau akan mati bersama gadis itu.”

Ketika membayangkan kembali kegilaan serta kekalapan yang telah dilakukan gadis itu, Cau-ji segera berseru, “Paman, ada benarnya juga perkataanmu itu, kau tahu, dia selalu bertindak gila terhadapku, bahkan tingkah lakunya sangat aneh, dia paksa aku mengencingi badannya berulang kali, hampir saja aku mati lantaran kecapaian.”

Mendengar perkataan itu, para orang dewasa tahu pikiran Cau-ji sudah terbuka, mereka pun menghembuskan napas lega, sementara dalam hati kecilnya merasa kagum bercampur terima kasih pada Bwe Si-jin.

Raja hewan segera maju ke depan menggenggam sepasang tangan Bwe Si-jin, ujarnya terharu, “Lote, tak nyana kau berjiwa besar dan bersedia mewariskan ilmu Kui-goan-sin-kang, kepandaian paling hebat perkumpulan Jit-seng-kau kepada Cau-ji, kalau dulu Loko salah menilaimu, harap sudi dimaafkan!”

Bwe Si-jin tidak menyangka kalau kesalah pahaman ini dapat diselesaikan sedemikian mudahnya, dengan girang ia balas menggenggam tangan Raja hewan.

“Engkoh tua, terima kasih atas pemahamanmu! Terima kasih banyak!” serunya terharu.

Ong Sam-kongcu yang selama ini hanya membungkam segera menimpali, “Sebenarnya perkumpulan Jit-seng-kau termasuk sebuah perkumpulan kaum lurus, sayangnya Kaucu yang menduduki jabatannya sekarang sudah mengambil jalan sesat, akibatnya perkumpulan ini dianggap orang sebagai perkumpulan sesat.”

“Saudara Bwe, asal kau bersedia membawa perkumpulan Jit-seng-kau kembali ke jalan yang benar, Siaute bersedia mendukungmu!”

“Betul, Lote,” kata si Raja hewan pula, “tulangku belum terlampau tua untuk digerakkan, ayo, berjuanglah, kami semua akan mendukungmu!”

Tak terkira rasa girang Bwe Si-jin setelah mendengar dukungan itu, katanya, “Terus terang, sebenarnya saat ini aku sudah mengantongi jawabannya, di kolong langit saat ini mungkin hanya Cau-ji seorang yang sanggup mengendalikan keempat iblis wanita itu, aku ingin mendukung Cau-ji menjadi ketua Jit-seng-kau!”

Jeritan kaget seruan tertahan segera bergema di seluruh ruangan.

“Saudara Bwe,” Segera Ong Sam-kongcu menyela, “Cau-ji masih kecil dan tak tahu urusan.”

“Ong-heng,” tukas Bwe Si-jin, “Cau-ji toh bakal tumbuh dewasa, biar mereka kaum muda saja yang berjuang memberantas kejahatan, sementara kita yang tua sudah waktunya pensiun dan menikmati sisa hidup dengan tenang.”

Bicara sampai di situ, ia melirik sekejap ke arah Go Hoa-ti.

Dengan penuh kegembiraan Go Hoa-ti balas melirik ke arah suaminya.

Raja hewan ikut berteriak pula, “Lote, kebesaran jiwamu sungguh membuat hatiku kagum.”

“Hahaha, engkoh tua, bagaimanapun sawah yang subur harus diwariskan kepada orang sendiri, bukan begitu?”

Dengan penuh pengertian Raja hewan balas tertawa.

Cau-ji sama sekali tak menyangka kalau dirinya bakal mendapat kesempatan untuk menjadi ketua perkumpulan Jit-seng-kau, tak tahan lagi dengan semangat yang berkobar serunya, “Ayah, apakah Cau-ji boleh menjadi Kaucu perkumpulan Jit-seng-kau?”

Ong Sam-kongcu tidak menyangka kalau dirinya yang mempunyai watak lemah tak bersemangat ternyata memiliki keturunan yang berhati keras seperti baja dan berilmu silat tangguh, kontan dia menyahut, “Tentu saja boleh!”

Ucapan selamat pun segera mengalir datang dari semua orang yang hadir.
Terlebih dua belas tusuk konde emas, mereka amat kegirangan sampai tak mampu berkata-kata.

Mereka sebenarnya termasuk macan betina yang suka melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, sekalipun sekarang sudah terbiasa hidup tenang, namun begitu muncul kesempatan, sifat aslinya langsung saja muncul.

Ong Sam-kongcu memperhatikan para bini dan anak-anaknya sekejap, lalu serunya kepada kawanan bocah itu, “Kalian dengarkan baik-baik, bila Cau-ji benar-benar menjadi seorang Kaucu. paling tidak kalian harus bisa menjadi seorang Tongcu atau Huhoat, jangan tak punya semangat begitu!”

“Kami pasti akan berusaha!” serentak para bocah berteriak.

“Hahaha, bagus, bagus sekali, sekarang kalian boleh pergi beristirahat, bila ada waktu senggang pasti akan kuajarkan ilmu silat yang lebih tangguh.”

“Baik!”

Baru saja Cau-ji akan ikut meninggalkan ruangan, Si Ciu-ing sudah menariknya ke dalam kamar dan memberi pelajaran ‘ilmu ranjang’ yang jauh lebih halus dan lembut, dia berulang kali berpesan agar bocah itu jangan kasar bila ingin menyetubuhi Jin-ji, selain itu diajarkan pula teknik pemanasan yang hebat.

Di pihak lain Pek Lan-hoa sekalian juga mengajak Ong Bu-jin kembali ke kamarnya untuk berbincang-bincang, selain menurunkan teknik melayani sang suami di atas ranjang, mereka pun sekaligus memberitahu asal-usulnya.

Sedang Ong Sam-kongcu menarik tangan Raja hewan dan diajaknya minum arak.

“Engkoh Jin,” bisik Go Hoa-ti kemudian, “kita sudah terlalu banyak berhutang budi pada mereka!”

“Adik Ti,” sahut Bwe Si-jin setengah berbisik, “kalau begitu mari kita bikin beberapa orang anak lagi, asal bisa dikawinkan dengan mereka, bukankah hutang budi kita bisa terbayarkan?”

Go Hoa-ti merasa hatinya berdebar, serunya cepat, “Aku sudah berusia setengah abad, masa subur untuk melahirkan sudah lewat, mana mungkin bisa melahirkan lagi?”

“Sstt, omong kosong, tahun ini usiamu baru enam belas tahu, siapa bilang sudah lewat masa melahirkan? Untuk perkataan ngawurmu itu kau mesti didenda!” Sambil berkata ia meraba pipi kanan bininya.

Go Hoa-ti segera mengegos ke samping dan cepat berlari menuju ke gedung Ti-wan.
Baru saja perempuan itu masuk ke dalam kamar, Bwe Si-jin telah memeluk tubuhnya erat-erat.

Author: 

Related Posts

Comments are closed.