Cerita Sex Arimbi ( By : Siganteng_rusuh ) – Part 13

Cerita Sex Arimbi ( By : Siganteng_rusuh ) – Part 13by on.Cerita Sex Arimbi ( By : Siganteng_rusuh ) – Part 13Arimbi ( By : Siganteng_rusuh ) – Part 13 Bukan Happy Ending ~~~oOo~~~ “Lah… Arimbi-nya mana?” Perlahan Septi meletakkan nampan yang di bawanya di meja. Tepat di belakangnya menyusul wanda sambil membawa beberapa toples berisi rengginang dan alen-alen. “Arimbi mana?” Sambung Wanda. “Tu… Diluar.” Sahut Bimo. “Kok di luar sih? Coba paranin Nda.” “Iya…” Sambil […]

3_127 alicegettinghervirginpussystretched sssArimbi ( By : Siganteng_rusuh ) – Part 13

Bukan Happy Ending

~~~oOo~~~
“Lah… Arimbi-nya mana?” Perlahan Septi meletakkan nampan yang di bawanya di meja. Tepat di belakangnya menyusul wanda sambil membawa beberapa toples berisi rengginang dan alen-alen.

“Arimbi mana?” Sambung Wanda.

“Tu… Diluar.” Sahut Bimo.

“Kok di luar sih? Coba paranin Nda.”

“Iya…” Sambil membenarkan ikat rambutnya, Wanda kemudian keluar menyusul Arimbi di teras rumah. “Ngapain di sini? Ayo masuk.”

Sekilas Arimbi melirik ke arah Wanda. “Udah dulu ya, bye…” Dan kemudian mematikan panggilan telefon-nya. “Iya bentar.” Sahutnya sembari mengantongi handphone itu.

“Telefon siapa?” Firasatnya mengatakan itu Aditya. Seandainya benar, itu tidak bisa di biarkan. Benar apa kata Revan, mereka harus bertindak sekarang atau tidak sama sekali. Karena semakin hari kedekatan Arimbi dan Aditya semakin berbahaya.

“Mo tau aja deh.” Tukas Arimbi sambil tersenyum berlalu meninggalkan Wanda.

“Dih… Malah ninggalin lagi.” Wanda menggerutu kesal dan kemudian menyusul masuk. “Iya… Barusan Arimbi telefonan ama Aditya.” Batin Wanda semakin yakin kalau barusan Arimbi telefonan sama Aditya. Senyuman Arimbi mengisyaratkan itu dengan pasti.

“Dari mana sih Bu?”

“Dari luar.”

“Haiyah… Duduknya sono, samping Bimo.” Begitu Arimbi akan duduk, Wanda sigap menahan Arimbi.

“Kenapa sih?” Sungut Arimbi sewot.

“Dih… Pakek nanya lagi.” Buru-buru Wanda menempati tempat duduknya sebelum Arimbi ngeyel duduk di situ, di samping Revan. “Bagianmu sono tu… Samping Bimo.”

“Iya ih… Deket deket akuh ntar kecantol tau rasa.” Celetuk Revan yang langsung di sambut pendelikan horor Wanda.

“Hm…”

“Hehehe…” Revan merenges cengengesan. “Becanda atuh Beib.” Dan kemudian membuat gestur damai salam dua jari.

Dengan terpaksa Arimbi mau tidak mau akhirnya duduk di samping Bimo. Dan ini sama dengan gaswat. Karena sedari tadi, duduk di samping Bimo adalah hal yang sebisa mungkin berusaha Arimbi hindari.

Ok… Tadi berangkat kesini Arimbi memang di bonceng Bimo. Dan efeknya? Sampai sekarang dada Arimbi masih dag dig dug hampir copot. Kalau bukan demi Andri dan Septi yang berbahagia, Arimbi sebenarnya ogah beranda di sini.

Berlama-lama bersama Bimo, di samping Bimo, ngalamat Arimbi bakal gagal move on. Hatinya yang semula yakin mendadak gamang karenanya. “Aditya Aditya Aditya.” Batin Arimbi terus melafalkan nama Aditya, berharap nama Bimo kehabisan tempat di hatinya.

Sebentar Arimbi menghela nafas panjang menata degub jantung-nya. “Sebenernya mau ada acara apaan sih ini?” Ujarnya mencari topik pembahasan.

“Kan mo syukuran nikahan Andri ama Septi.” Sahut Wanda.

“Lha terus… Makan makan-nya mana?” Timpal Bimo polos. Kalau katanya syukuran, tapi di meja kok cuma ada kopi teh manis anget alen-alen dan rengginang. Bukankah seharusnya ada prasmanan ya gaes.

“Udah… Untal aja seadanya napa sih? Bawel bet dah ah.” Sungut Andri sambil mengambil rengginang dari dalam toples.

Rengginang dan Alen-alen. Duet maut jajanan khas rakyat Indonesia. Sebagai generasi muda bangsa yang katanya Indonesia ini, wajib kiranya kita melestarikan jajanan asli warisan leluhur ini. Viva la Rengginang. Viva la Alen-alen.

“Seru ya kalau kita bisa kek gini terus?” Tukas Revan sambil meniup kopi hitamnya yang masih mengepul panas. “Amigos for siempre.” Dan kemudian menyesap kopi hitam itu perlahan.

“Lah… kenapa? Emang kita mo cerai?”

“Cerei gundualmu itu.” Sambil mendelik geregetan, Andri menyambit Bimo dengan remahan rengginang yang di makan-nya. “Tiga bulan lagi kan kita lulus pret.”

“Pede amat sih klo lulus.”

“Dih songong.”

“Abis lulus kalian rencananya mo nglanjutin kemana?” Sambung Septi menimpali.

“Arimbi mo kuliah di Jakarta, Bimo mo nerusin ke Zimbabwe atau klo nggak ke suriah mo magang isis.” Sahut Wanda.

“Lagaknya… Kek yang punya jenggot aja sih.” Sekali lagi Andri menyambit Bimo dengan remahan rengginang. “Hup!” Tapi dengan sigap Bimo malah mencaplok rengginang sambitan Andri itu.

“Yeee… Emang klo mo magang isis kudu punya jenggot apa?” Selesai menggayem rengginang sambitan Andri, Bimo kembali ready mangap meminta sambitan rengginang lagi. “Aaaaaaa…”

“Dih… Nafsu dia.” Tukas Septi geli melihat tingkah ajaib Bimo. Seandainya cewek-cewek di luar sana tau tingkah Bimo aslinya seperti apa, pasti mereka menyesal mengidolakan Bimo yang ganteng dengan tongkrongan super keren itu.

“Klo aku ntar mo lanjut ke kebidanan. Jadi ntar klo Bu Septi lahiran, ama Bu Bidan Wanda aja ya.” Ujar Wanda dengan imutnya.

“Nggak ada yang nanya!” Sahut Bimo Andri dan Septi kompak.

“Yeeee… biarin.” Wanda merengut sewot. Gaya-nya yang di imut-imutin ala JKT48 itu sontak memancing gelak tawa Adri Septi dan Bimo. Bahkan Revan-pun tak sanggup menahan untuk tidak ikutan tertawa.

Huaaaahahahaha…

Sementara yang lain bercanda tertawa haha-hihi, Arimbi hanya diam. Hanya sesekali dia tersenyum menjawab pertanyaan yang di ajukan kepadanya. Bahkan saat semuanya menertawakan tingkah Wanda, Arimbi hanya merenges tipis.

“Eh… Tapi ini ada yang mo kami omongin ama kalian.” Ujar Revan tiba-tiba sambil menatap Arimbi dan Bimo bergantian. Suasana yang tadinya riuh seketika langsung menjadi sepi.

“Ngomong apaan?” Arimbi akhirnya buka suara juga. Mata cantiknya menatap Revan tajam penuh penasaran.

“Huayo lo… Kok jadi kita.” Sambung Bimo tak kalah penasaran-nya.

“Udah dengerin dulu.” Perlahan Revan mengatur posisi duduknya sedikit lebih tegap. Kesan serius di pasang di raut wajah-nya. “Kami pengen kalian balikan lagi kek dulu.” Ujar Revan kemudian.

WHAT?! Bimo dan Arimbi sontak melongo kaget. Kenapa harus balikan, kan secara de vacto Bimo dan Arimbi belum pernah pacaran. Lha kalau pacaran aja belum, berarti kan belum pernah putus. Terus dari mana asalnya balikan?

“Baaalikan?” Ulang Bimo sambil mengerutkan dahi bingung. Sementara Arimbi, dia lebih memilih diam menunggu kelanjutan ucapan Revan barusan. Firasatnya mengatakan ini ada hubungannya dengan Aditya.

“Gini bro… Kami pengen kisah masa SMA kita semua happy ending. Aku… Biarpun rada horor akhirnya happy ending ma Septi. Revan dah jelas ama Wanda. Terus kamu..” sekilas Revan kembali menatap Bimo dan Arimbi tajam bergantian. “Kami pengen kalian juga happy ending.”

“Happy ending?” Lambat Bimo mulai bisa mencerna kemana arah pembahasan ini. Tidak salah lagi. Bimo yakin Andri dan Revan berusaha menyatukan dia dan Arimbi. Bukan ide yang buruk karena kenyataan-nya dia sendiri tidak sanggup melakukan itu.

Tapi… Sumpah demi apapun Bimo juga mulai ngeri. Dia takut Andri, terutama Revan, menggunakan apa yang mereka tau tentang rahasianya sebagai senjata. “Ah… Epek kebanyakan nonton sinetron kalian pada.” Lanjut Bimo sinis.

“Ini serius Bro… Kami pengen kalian nggak kek gini terus.” Raut Wajah Revan semakin terlihat serius. Ini beneran serius, karena sama sekali tak terlihat tampang selengean Revan sebagaimana biasanya dia.

“Ini masalah Aditya?”

“Iya.” Sahut Revan langsung mengangguk mengiyakan Arimbi. “Karena bagaimana-pun juga kamu itu punya Bimo. Dari dulu sekarang dan selamanya akan terus seperti itu. Nggak seharusnya ada kunyuk Adiya di antara kalian.”

Sementara Revan berjuang menumpahkan uneg uneg-nya, Andri hanya diam menunggu. Bocah kalem itu terlihat lebih pasif. Tapi jangan salah, di balik diam-nya itu tersimpan sebuah jurus pamungkas yang bakal membuat geger dunia persilatan.

Pun demikian dengan Wanda dan Septi. Diam diam dua gadis manis itu juga mengumpulkan beberapa alat bukti tentang kenangan Bimo dan Arimbi. Mereka berharap, kenangan itu akan menjadi bahan pertimbangan Arimbi untuk mau kembali kepada Bimo.

Arimbi tersenyum sinis. “Kamu itu aneh Van. Kalaupun aku beneran ama Aditya, terus masalahnya buat kamu apa?”

“Ya masalah lah.”

“Masalah?” Arimbi tau kalau Revan adalah manusia explosif. Manusia dengan temperamental yoyo yang naik turun. Tapi Arimbi tidak pernah menyangka kalau Revan akan bertindak sejauh ini mencampuri urusan-nya.

Kemarin, saat Revan tiba-tiba menghajar Aditya, Arimbi masih bisa maklum walau jujur dalam hati dia kesal level akut. Bilang kalau kemarin itu reflek, lha tapi ini? Ini jelas di sengaja dan di rencanakan. “Alasannya?”

“Ini dia.” Sigap Andri menahan Revan yang akan beradu argumen dengan Arimbi. Timing yang dia tunggu akhirnya datang juga. “Ini alasannya.” Andri kemudian menyodorkan sebuah buku di depan Arimbi.

“Modiar!” Reflek Bimo berusaha merebut buku itu. Gawat! Jangan sampai Arimbi membaca dan tau isi buku itu. “Ndi… Ndri… Jangan gitu apa Ndri…” Pintanya setengah mengiba.

“Diem!” Bentak Andri sambil melotot galak. “Kamu diem aja!” Semua yang ada di situ langsung bergidik ngeri melihat sorot mata Andri. Ajaib. Bocah kalem itu ternyata bisa galak dan semengerikan ini. “Kamu baca ini.” Andri kembali menyodorkan buku itu kepada Arimbi. “Itu alasan kami plus kami nggak bisa lihat sahabat kami galau terus-terusan.”

“Galau karena kamu.” Timpal Revan menambahi.

Bilang kalau Bimo benar pengecut, karena nyatanya dia hanya bisa pasrah membiarkan Arimbi membaca buku itu. Anak buto jelas pasti bakalan ngamuk, tapi Bimo tidak bisa berbuat apa-apa kecuali pasrah.

Bimo terlalu lemah kalau menyangkut Arimbi. Jangankan berusaha mempertahankan diri, bernafas-pun dia susah. Yang Bimo bisa hanya mengutuk sumpah serapah dalam hati, kenapa dia sampai sebodoh itu menulis rahasia mereka di sana.

“Hehe…” Selesai membaca apa yang ada di buku itu, sekilas Arimbi melirik dan tersenyum sinis ke arah Bimo. “Jadi kamu yang ngatur ini semua?” Tuduh Arimbi datar sambil meletak-kan buku itu di meja. Keterkejutannya terlalu besar sampai Arimbi tidak sanggup ngamuk seperti biasanya.

“Enggak.” Sahut Bimo dengan suara serak yang hampir tercekat di tenggorokan. Bimo sudah pasrah kalau Arimbi bakalan marah. Di kruwes kruwes atau di cincang sekalipun di ikhlas, karena Bimo yakin ini semua berawal dari ketololan-nya.

“Udah faham kan?”

Arimbi hanya menyeringai sinis menatap Andri dan Revan bergantian. “Kalau aku nggak mau?”

Kompak Wanda dan Septi kemudian menyodorkan handphone mereka. Di galery mereka tersimpan foto-foto upload-an Arimbi bersama Bimo dan Beberapa Screenshot Status dan tweet Arimbi mengenai Bimo. “Masa kamu bisa ngeluapin itu begitu aja sih Bu?” Ujar Wanda.

“Iya Rim… Kamu balikan lagi ya ama Bimo.” Rayu Septi menimpali.

Arimbi kembali hanya tersenyum sinis. Ini sangat keterlaluan. Dalam kisah apapun, di dongeng sebagaimana-pun, belum pernah ada dalam sejarah. Sahabat memaksa sahabatnya balikan lagi dengan sahabatnya padahal mereka belum pernah pacaran.

Sahabat? Entah apa kalimat itu tepat menggambarkan hubungan dia dan Bimo selama ini. Tapi dari jutaan kalimat dalam kamus bahasa indonesia, nyatanya hanya kalimat itu yang lumayan pantas. Sahabat.

“Sorry… Aku nggak bisa.”

“Iya gaes… Kita nggak bakalan bisa.” Timpal Bimo setelah sanggup mengumpulkan sedikit keberanian mental-nya.

“Kenapa?” Revan menatap penasan Arimbi dan Bimo bergantian. “Kenapa nggak Bisa? Apa kalian bisa begitu aja lupa kenangan bobok bareng kenyot kenyotan nenen bareng hanya karena si kunyuk Aditya itu?”

“Van…” Dengan lembut Wanda mengusap punggung Revan, berusaha menurunkan tensi intonasi Revan yang mulai meninggi. “Ssssst…”

Kenyot kenyotan nenen?

Kalau yang ini Bimo benar-benar membelalak kaget. Dia tidak menyangka kalau Revan juga tau soal yang satu itu. Tapi dari mana? Bukankah itu terlewat tak tertulis di buku itu. Sementara Arimbi, dia sama sekali tidak terkejut Revan tau soal itu. Jelas dan pasti Wanda yang memberitahu-nya. Mungkin Revan asal mangap, tapi nyatanya itu benar.

“Udah lah Van…” Sejenak Arimbi menghela nafas dalam. “Mo kami dulu pernah ngapain juga, tapi nyatanya kami kan nggak pacaran. Walau jujur aku kaget plus kecewa, tapi aku juga berterima kasih karena kalian udah care ama kita. Tapi sorry… Aku dan Bimo nggak bakalan bisa.”

“Heeeeh!” Revan mendengus frustasi sambil meremas rambutnya sendiri. “Kalian ini kenapa sih hobinya ngeyel?!” Setelah mendapat isyarat anggukan setuju dari Andri, Revan kemudian mengeluarkan sesuatu dari kantong seragam-nya. “Masa bodo mo alasan kalian nggak mau balikan apa. Yang jelas kami dan ngomong baik-baik. Dan maaf kalau gitu, kami terpaksa mengguna…”

Tok tok tok tok…

Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari arah pintu. “Assalamualaikum…” Kompak tanpa di komando semual langsung menoleh ke arah pintu. Tanpa bisa di tahan, emosi Revan langsung meluap begitu melihat Aditya merenges di sana.

“Uanjing!” Sontak Revan loncat menghambur ke arah Aditya. “Setan! Ngapain kesini?!” Dan dengan membabi buta langsung menyerang melepas bogem dan tendangan-nya.

Jalgh Jlagh Jlagh…!

Di serang tiba-tiba dan membabi-buta seperti itu, Aditya tidak sempat menangkis apa lagi menghindar. Dia hanya bisa pasrah di jadikan samsak hidup. Jlagh! Satu tendangan telak di ulu hati membuat Aditya langsung terjengkang dan terkapar.

Seperti orang kesetanan, Revan terus mengejar Adtya yang sudah terkapar tak berdaya itu dan terus melepaskan bogem-nya brutal.

Jlagh Jlagh Jlagh…!

Begitu sadar dari ketertegunan sesaat, Bimo dan Andri langsung berlari menahan Revan yang semakin kesetanan. “Van… Van!” Bentak Bimo sambil menghantamkan bogemnya ke pelipis Revan. “Berhenti nggak?!”

Hantaman Bimo seperti tak berarti. Revan terus berusaha menyerang Aditya walau sudah di tahan Bimo dan Andri. “Van! Stop!” Bentak Andri sambil… Jlagh! Hantaman telak dengkul Andri di ulu hati akhirnya mampu menumbangkan Revan.

“Dancok koe! Asu!” Sumpah serapah terus keluar dari mulut Revan.

“Vaan… Stop Van… Stop!” Dengan berlinang air mata Wanda mengambur dan memeluk Revan. “Udah Van… Udah…” ujar Wanda sambil menangis sesenggukan.

“Kamu terlalu!” Sambil menangis, Arimbi perlahan berusaha memapah Aditya berdiri. Wajah bocah itu sudah tak berbentuk mosah masih remuk redam. Darah membasahi sekujur wajahnya. “Kamu kejam Van! KEJAAAAAM..!” Pekik Arimbi histeris.

“Tega kamu kek gini Van! Ok… Biar kamu puas, biar kalian puas!” Sambil menjerit histeris Arimbi menunjuk semua-nya. “Aku PACARNYA Aditya. Kita udah jadian! Dan mo kek apa juga, kalian nggak bisa misahin kami. Denger kalian?!”

Seketika suasana berubah hening. Hanya isak tagis Wanda dan Arimbi di tambah rintih kesakitan Aditya yang terdengar. “Rim… Bawa Aditya pergi dari sini.” Ujar Bimo pelan memecah keheningan.

Walau kenyataan kalau Arimbi sudah jadian sama Aditya menyakitkan. Tapi Bimo berusaha sebisa mungkin bersikap biasa. Terlalu memalukan kalau sampai dia nangis bombay karenanya.

oOo
“Aaauch…” Aditya meringis perih saat seorang suster membersihkan luka-luka di wajahnya. Di sampingnya, Arimbi terus sesenggukan sambil menggenggam tangan-nya. “Udah ih… Aku nggak apa-apa kok.” Ucap Aditya sambil meringis.

“Kayak gitu kok bilang nggak apa-apa.”

“Udah mas.” Selesai membersihkan dan memplester luka Aditya, perwat itu langsung merapikan perlatannya. “Gimana? Apa sekalian di bikinin visum buat laporan ke Polisi.”

“Nggak usah Mbak. Makasih.”

“Ini nggak ada yang oerlu di jahit Mbak?” Tanya Arimbi khawatir.

“Oh enggak… Cuma luka sobek sedikit ama memar-memar doang kok. Nggak lama juga udah sembuh.” Sahut oerawat itu sambil beranjak keluar. “Permisi.”

“Udah ih jangan nangis, jelek tau.” Ucap Aditya sambil perlahan menyeka air mata di sudut mata Arimbi. “Aku kan nggak apa apa.”

“Tapi Dit…”

“Sssst…” Belum selesai Arimbi melanjutkan kalimatnya, Aditya keburu meletak-kan jari telunjuk di bibir manisnya. “Yang tadi itu beneran?”

Sontak Arimbi merengut imut. Di saat seperti ini masih bisa-bisanya Aditya membahas itu. “Apaan sih.”

“Beneran Rim. Kalau apa yang kamu bilang tadi beneran, sumpah aku langsung sehat saat ini juga.”

“Lebay.”

“Aku pacarnya Aditya.” Memory Arimbi sekilas merolback kejadian beberapa saat yang lalu. Menerima tembakan Aditya. Di saat seperti ini menerima tembakan itu mungkin jalan yang terbaik. Walau Arimbi belum sepenuh-nya memiliki rasa, tapi dia yakin bisa belajar seiring waktu.

“Gimana?” Tanya Aditya penuh harap. “Kalau nggak aku sakit lagi ni.”

“Iya.” Arimbi mengangguk dengan raut merona tersipu malu-malu.

“Iya apa?”

Sesaat Arimbi menghela nafas dalam. “A-aku mau jadi pacar kamu.”

“Cuhuuuui.”

Pletak!

“Whuataaaaaw….”

Masa indah dengan Bimo mungkin tak kan bisa di hapuskan karena itu sejarah. Perjalan yang membentuk Arimbi sampai di sini. Kalau Bimo masa lalu, mungkin Aditya-lah masa depan-nya. Seseorang yang sudah di takdirkan untuknya. Semoga.

oOo
“Sorry ya bro?” Ujar Revan sambil memegangi ulu hatinya. Hantaman Andri tadi begitu telak sampai linunya masih terasa sekarang.

“Ya Udah nggak apa-apa.” Bimo mendengus lemah.

“Kami juga sorry ya Bim.” Ucap Septi di sambung Andri dan Wanda. “Beneran… Niat kami cuma pengen kalian bahagia kok.”

“Iya… Makasih ya.”

“Kita masih tetep sahabatan kan bro?”

Bimo tersenyum dan kemudian menepuk bahu Andri. “Selamanya. Kalian tetep sahabatku, teman-temanku.”

“Tengkyu bro.” Andri memeluk Bimo dengan erat. Pelukan sahabat yang akan selalu hangat dari masa ke masa, selamanya.

“Udah ah… Dah kek maho aja main peluk-pelukan.” Perlahan Bimo melepas pelukan Andri. “Udah ya… Aku balik dulu. Bye.”

“Lah… Ini aku nggak di peluk ini?” Cicit Revan iri minta di peluk.

“Wan… Peluk Wan.” Sahut Bimo sambil terus berlalu.

Andri Septi Revan dan Wanda mengiringi langkah Bimo dengan tatapan trenyuh. Kasian Bimo. Saat ini hatinya pasti hancur sampai lembut mengetahui kenyataan Arimbi sudah berpacaran dengan Aditya.

Dalam hati mereka berdoa, semoga Bimo bisa menemukan yang lebih baik kelak di kemudian hari. Jalan masih panjang, segala kemungkinan masih mungkin bisa terjadi. Tangis hari ini pasti akan berganti senyum nanti. Hancur kali ini adalah awal kebangkitan untuk masa nanti.

Dan mereka berjanji, selamanya akan selalu ada. Bersama berjalan beriringan bahu-membahu saling menjaga. Sahabat untuk kemarin saat ini nanti dan selamanya. Tak kan pernah terganti.

~~~oOo~~~

Bersambung

Author: 

Related Posts

Comments are closed.