Cerita Sex Divine Intervention – Part 38

Cerita Sex Divine Intervention – Part 38by on.Cerita Sex Divine Intervention – Part 38Divine Intervention – Part 38 Aku membuka mataku yang terasa amat berat. Biasanya aku tidak akan bangun jika mataku terasa seperti ini, tetapi entah mengapa aku merasakan adanya dorongan yang sangat kuat untuk membuka mata. “Aduh…” aku meringis karena kepalaku terasa berputar, rasanya seperti baru saja terbentur tembok “Ah. Udah sadar toh kamu” sebuah suara […]

multixnxx- Rena Arai Yuzuha Takeuchi Rena Arai Yu-7 (1) multixnxx- Rena Arai Yuzuha Takeuchi Rena Arai Yu-7 multixnxx- Rena Arai Yuzuha Takeuchi Rena Arai Yu-8 (1)Divine Intervention – Part 38

Aku membuka mataku yang terasa amat berat. Biasanya aku tidak akan bangun jika mataku terasa seperti ini, tetapi entah mengapa aku merasakan adanya dorongan yang sangat kuat untuk membuka mata.

“Aduh…” aku meringis karena kepalaku terasa berputar, rasanya seperti baru saja terbentur tembok

“Ah. Udah sadar toh kamu” sebuah suara lembut berhasil membuatku sedikit lebih fokus

Aku menoleh, mencari sumber suara yang terdengar amat merdu dan menyenangkan itu. Tak jauh dari tempatku berbaring, seorang cewek cantik tengah merapikan beberapa tangkai bunga Daffodil kemudian memasukkannya kedalam sebuah vas kaca bening berisi air. Ia berjalan mundur dua langkah, menelengkan kepala seperti menilai hasil pekerjaannya tadi lalu mengangguk puas.

Cewek itu mengenakan kaos putih bertuliskan Forever and Ever dan celana jeans pendek selutut. Kulitnya putih dan tampak sangat lembut. Rambutnya yang berwarna hitam agak kemerahan dibiarkan tergerai hingga menutupi bahunya.

Mbak ngapain disini? aku menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya

Ia berpaling dari vas bunganya dan balas menatapku. Mendengar pertanyaanku, ia tidak langsung menjawab tetapi malah mengerutkan alis. Agaknya aku salah memilih kata. Walaupun aku yakin sekali bahwa nadaku tidak menyebalkan, tetapi kalimat tadi malah terdengar kurang sopan.

Bu-bukan. Maksudnya, mbak ngapain di sini? Aduh! Bukan ngapain dengan maksud yangah gimana ya? Saya cuma tanya, apa yang mbak lakuin disini, nggak ada maksud lain kok lanjutku gelagapan karena takut cewek itu tersinggung

Ia tertawa menanggapi kalimatku yang tidak karuan barusan. Aku mencoba membaca ekspresinya, gerakan tubuh dan nada tertawanya namun nihil. Aku tidak bisa membuat kesimpulan apapun.

Senyum belum hilang dari wajah cewek itu. Aku dikasih tugas buat nungguin dan jagain kamu sampai kamu siuman jawabnya kalem

“Jagain? Memang aku dimana?”

“Rumah sakit” jawabnya sambil melangkah mendekat

Tanganku sedikit gemetar saat mendengar kata rumah sakit.

Wait…rumah sakit?

Yap. Kamu barusan operasi. Ingat?

Operasi…

Ya. Samar-samar aku bisa mengingat, hal yang terakhir kali aku lihat adalah lampu operasi yang sangat terang. Setelah itu semuanya gelap. Sepertinya aku tertidur karena pengaruh obat bius.

“Berarti operasinya sukses? Maaf, udah berapa lama saya nggak sadar?”

Setelah berada di sampingku, cewek itu mengambil tempat dan duduk di tempat tidur, tepat di samping tubuhku yang masih terbaring. “Mmm…baru satu hari” ia tersenyum manis

Masa?! jawaban yang diberikan oleh cewek itu membuatku sangat terkejut. Hanya dalam waktu satu hari aku sudah bisa sadar?

Aku merogoh kedalam pakaian rumah sakit dan meraba bagian dadaku. Tanganku menyentuh sesuatu yang terasa seperti kain. Karena penasaran, aku membuka dua kancing teratas pakaianku dan melihat kain yang digunakan untuk membalut bekas jahitan di tubuhku. Aku menekan bagian tengah perban itu dengan jari namun tidak ada rasa sakit sama sekali. Sepertinya obat biusnya masih bekerja.

Alisku berkerut karena setahuku butuh beberapa hari bagi seorang yang menjalani operasi untuk siuman. Setidaknya itu yang aku tahu. “Secepat itu? gumamku

Yah begitulah. Kamu cewek yang sangat beruntung loh! Oh iya, omong-omong jangan panggil aku mbak deh. Aku masih seumuran kok sama kamu

Aku mengangguk pelan dan tersenyum sementara kedua tanganku kembali mengancingkan baju. Tidak ada yang dilakukan oleh cewek itu selain tersenyum dan memandangiku. Sepertinya ia adalah orang yang sangat sabar.

Shiela, kamu bener-bener nggak ingat aku? ia bertanya pelan

Aku terdiam, mencoba mengingat-ingat kapan aku pernah bertemu dengan cewek itu. Rasanya aku PERNAH bertemu dengannya, tetapi ingatanku terasa amat samar-samar. Akhirnya aku menggeleng pelan sebagai jawaban.

Ia tersenyum lagi. I thought so…

Dalam waktu yang relatif singkat, kami kehabisan bahan obrolan sehingga kami hanya saling diam. Setelah keheningan yang berlangsung cukup singkat itu, aku teringat sesuatu yang penting. Semangatku melonjak tiba-tiba saat aku mengingat orang yang paling ingin aku temui saat ini

Ah! Iya, Evan! Kamu tau dimana Evan??” aku sudah berjanji kepada diriku sendiri, begitu aku sadar, Evan lah orang pertama yang akan aku temui

Cewek itu mengerutkan alis. Sepertinya ia tidak paham dengan orang yang aku maksud.

“Itu, cowok yang tinggi…emm…cakep, rambutnya pendek”

Tidak ada yang berubah dari wajah cewek itu. Ia tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia mengetahui sesuatu, justru sebaliknya, alisnya mengerut semakin dalam.

Aku menghembuskan nafas, agak kecewa. Ahnggak tau ya

Gelengan lemah menyambut kekecewaanku. Lalu cewek itu berdiri dan melangkah menuju sebuah meja kecil yang agak jauh dari tempat tidurku, dekat dengan sofa. Ia menuangkan air bening dari teko ke salah satu gelas yang tersedia.

Ia kembali menghampiriku lalu mengulurkan gelas yang hampir penuh itu kepadaku. “Ini, minum dulu…”

Gelas itu aku terima dengan sebuah senyuman terima kasih. Aku baru sadar ternyata sejak tadi aku merasa haus. Air itu terasa sangat dingin saat menuruni tenggorokanku.

“Shiela, ada lagi yang kamu perlukan? Bilang aja, nanti aku ambilkan”

Aku menggeleng. “Tau namaku dari mana? tanyaku sambil meletakkan gelas yang sudah kosong di meja kecil yang tepat berada di samping tempat tidur

Cewek itu menatapku dengan pandangan lucu. Hei! Aku kan yang jagain kamu, masa sih aku nggak tau nama orang yang aku jagain?

Iya juga ya aku tertawa ketika menyadari kebodohanku

“Dasar konyol”

Kami berdua tertawa berbarengan. Tiba-tiba aku mendengar suara seseorang meraung di lorong rumah sakit ini. Tubuhku langsung menegang. Aku melirik cewek itu, namun ia tetap kalem.

Teriakan itu masih berlanjut, bahkan semakin menggila. Dari suaranya, aku yakin orang itu adalah seorang cowok. Itu…orang itu kenapa? tanyaku

Ah, dia salah paham. Dikiranya orang yang ditunggin sama dia meninggal, padahal cuma tidur jawabnya enteng

Aku terdiam, mendengarkan. Terdengar beberapa suara mulai bergabung, tampaknya mencoba menenangkan cowok itu. Lalu beberapa detik kemudian, cowok tadi berhenti meraung, dan suasana kembali sepi. Aku menggigil jika mengingat suaranya yang terdengar sangat putus asa itu.

Oh… Kamu sendiri?” tanyaku mencoba mengalihkan perhatian

“Kenapa?”

Aku tersenyum. “Siapa namamu?”

Ia membalas senyumku. Kali ini aku terpaku saat melihat senyumnya. Matanya yang begitu teduh dan tenang itu entah mengapa membuatku merasa sangat nyaman. Walaupun aku merasa nyaman tetapi seperti ada sesuatu kekuatan yang tak terlihat yang membuatku tidak bisa menggerakkan tubuhku. Yang aku lakukan hanyalah menatap kedalam matanya, seperti orang terhipnotis.

Nama kamu siapa? pertanyaan itu meluncur sekali lagi tanpa kusadari

Senyum di wajahnya menghilang seketika dan ekspresinya berubah. Aku tercengang saat ia menatapku dengan penuh kasih sayang. Aku bisa berkata seperti itu karena Evan selalu menatapku seperti itu sebelum membelai rambutku dan berkata ‘I love you Shiela’.

Tepat ketika cewek itu hendak menjawab, pintu ruangan terbuka dan Evan masuk dengan wajah yang menunduk menatap ke lantai. Cowok itu sperti kehilangan semangat hidupnya. Aku nyaris memekik senang ketika melihat cowok yang ingin aku temui itu. Evan!

Aku sangat yakin suaraku cukup keras untuk didengar olehnya, tetapi cowok itu terus berjalan dengan menatap lantai tanpa menghiraukan panggilanku.

Van? Kamu nggak apa-apa? tanyaku agak khawatir

Mendadak cowok itu membeku. Aku juga sampai terkejut melihat reaksinya yang sangat aneh itu. Dengan gerakan yang sangat pelan, cowok itu mengangkat wajahnya. Ia menatapku dengan mata yang terbuka lebar, seperti melihat hantu. Matanya yang merah itu membuat nafasku seperti terhenti. Aku tahu, cowok itu terlalu banyak menangis. Ia sangat mengkhawatirkanku rupanya.

Shiela? suaranya yang parau itu seperti menyayat dadaku

Aku memasang senyumku yang paling manis. Hei. Operasinya berhasil

Kamu….nyata? cowok itu malah balik bertanya

Pertanyaan Evan sungguh tidak masuk akal. Apa dia berpikir aku sudah meninggal? Yang benar saja. Aku sadar sepenuhnya seperti ini, merasa sangat sehat, bahkan dada kiriku tidak lagi terasa sakit sama sekali. Kenapa cowok itu malah bertanya seperti itu?

Nyata lah! Kenapa sih? Kamu pikir aku mati? ucapku kesal

Tangan Evan yang gemetaran membelai pipiku. Aku tersentak saat merasakan jari-jari Evan sedingin es. Sh…Shiela… cowok itu berbisik

Perasaan takut mulai merayapiku. Ke…kenapa sih?

Bukannya ekspresi gembira yang aku lihat di wajah Evan, tetapi rasa tidak percaya mewarnai wajahnya yang pucat dan kusut itu. Mulutnya menganga saat menatapku.

Tapi, kamu bilang tadi… Evan menoleh ke arah cewek yang sejak tadi menungguiku

Cewek itu mengangkat bahu. The Big Man says otherwise

Aku semakin kebingungan. Apa yang sebenarnya terjadi?

“You asked my name?” mendadak cewek berambut kemerahan itu bertanya kepadaku

“Uh…ya” sahutku bingung karena cewek itu memilih untuk menjawab pertanyaanku di saat seperti ini

Aku menjerit ketika tiba-tiba cewek itu merenggut baju rumah sakit yang aku kenakan dan langsung mengoyaknya tanpa ampun. Di balik penampilannya yang tampak anggun dan lemah lembut itu ternyata ia menyimpan kekuatan yang mengerikan. Karena baru menjalani operasi, jelas saja aku tidak mengenakan bra.

Belaian lembut angin dari jendela yang menyentuh kulit punggungku membuatku bergidik. Evan melotot saat melihatku telanjang tanpa pakaian dan hanya dibalut kain penutup tempat jahitan operasi. Wajahku terasa panas karena malu, tetapi aku jauh lebih ingin tahu mengapa cewek itu malah merobek pakaianku.

Cewek itu mengulurkan tangannya, menyentuh kain yang membebat dadaku. Stay still

Begitu mengetahui apa yang hendak dilakukannya, aku langsung panik. Hei! Hei! Jangan! Lukanya masih belum kering! Ja–

BREEEEKKK!

Dengan satu tarikan, kain yang seharusnya menutupi bekas operasi di tubuhku sobek dan terjatuh ke lantai. Aku menjerit ketakutan.
Rasa sakit yang luar biasa tiba-tiba menyerang dadaku, rasanya jauh lebih sakit daripada saat serangan-serangan sebelum operasi. Air mataku langsung meleleh.
Aku ingin memegangi dadaku, tetapi aku sadar, itu hanya akan menambah rasa sakit. Bahkan Evan tidak melakukan apapun selain menatap ke buah dadaku yang praktis tidak ditutupi oleh apapun.

Hei! Tenang!

Sakiit… aku merintih dengan air mata bercucuran

Cewek itu menggenggam tanganku. Sssh. Tenang. Tenang dulu…

Udah? Oke…sekarang lihat ke dadamu ucapnya setelah aku agak tenang

Aku menggeleng. Aku tidak ingin melihat luka menganga dan jahitan-jahitan pada dadaku. Aku takut. Namun cewek itu tetap memaksa. Pelan-pelan aku menunduk, menatap ke bawah. Nafas seperti di tarik dengan paksa dari paru-paruku saat melihat dadaku.

Tidak ada bekas jahitan. Tidak ada luka menganga yang mengucurkan darah segar. Bahkan tidak ada bekas darah sedikitpun. Semuanya tampak normal, mulus, seperti sebelum operasi. Aku melongo. Aku…aku…mana bekas operasinya?! Apa yang terjadi?

Mendadak cewek itu mengalungkan seutas kalung perak, dengan liontin daun Maple. Liontin yang sama seperti yang diberikan oleh Florence pada saat mendandaniku sebelum berangkat ke acara Valentine. Ia tersenyum, manis sekali.

“Namaku Valen. Salam kenal” ucapnya kalem

Nama itu mengingatkanku akan sesuatu. Butuh beberapa detik bagiku untuk mencerna nama itu. Dan ketika aku berhasil menemukan pemilik nama itu, tubuhku serasa membeku.

Valen adalah nama mantan pacar Evan yang sudah meninggal.

Ia menggenggam tanganku. Welcome back, Shiela

***

TAMAT

Author: 

Related Posts

Comments are closed.